A. Tujuan
Praktikum ini bertujuan memberi pengetahuan dan keterampilan dasar mengenai prosedur pembuatan tempe dan tape.

B. Hasil Pengamatan
Foto hasil pengamatan

Tempe hasil fermentasi Tape hasil fermentasi
Rhizopus spp. Saccaromyces spp.

C. Pembahasan
Beberapa cendawan menghasilkan produk yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. Salah satunya adalah penghasil panganan tradisional yang tidak asing lagi, seperti tempe dan tape. Panganan ini dihasilkan dari aktifitas fermentasi cendawan tertentu.
Tempe dihasilkan dari aktifitas fermentasi jamur Rhizopus spp.pada kacang kedelai. Adapun tahap dalam proses pembuatan tempe antara lain; kedelai dicuci hingga bersih, kemudian direndam selama 24 jam. Setelah itu direbus hingga setengah matang, dinginkan dan kelupas kulit arinya, disiram dengan air panas, dan dinginkan. Setelah dingin campurkan laru pada kedelai. Laru merupakan campuaran biakan Rhizopus dengan tepung. Campurkan laru dan kedelai kemudian dikemas dalam tempat tertutup. Diamkan dalam suhu ruang selama 2-3 hari. Tempe yang berhasil dalam pembuatannya memiliki permukaan rata putih, kompak dalam jalinan miselium Rhizopus spp. antara keping kedelai satu dengan kedelai lainnya sehingga biji kedelai tidak tampak lagi. Namun hasil percobaan yang kami lakukan kurang berhasil, hal ini dapat dilihat dari hasil tempe yang telah diinkubasi pada suhu ruang tidak menampakkan tumbuhnya miselium berwarna putih, bahkan bentuk kedelainya masih terlihat. Kegagalan percobaan ini disebabkan karena kurang sterilnya dalam proses pembuatan, proses perendaman yang terlalu lama, dan proses pengemasan yang kurang baik.
Selanjutnya yang kedua adalah hasil cendawan industri berupa tape. Tape merupakan hasil fermentasi dari cendawan Saccharomyces spp. pada singkong atau ketan. Pada praktikum kali ini bahan baku yang digunakan adalah ketan hitam. Adapun proses pembuatannya antara lain; ketan hitam dicuci bersih, kemudian direbus setengah matang, dan direndam selama 8 jam. Ketan hasil rendaman buang airnya dan bersihkan dengan air hangat, didinginkan. Setelah dingin campurkan ragi laru pada ketan secara merata. Pengemasan dilakuakan secara tertutup, dan diamkan pada suhu kamar selama 2-3 hari. Berdasarkan kandungan mikrob yang terdapat dalam ragi, proses fermentasi tape dibagi menjadi dua tahap, yaitu perubahan pati menjadi gula sederhana oleh aktifitas kapang dan perubahan gula menjadi alkohol oleh aktifitas khamir. Selain itu pada saat fermentasi terjadi perubahan asam amino dari protein menjadi alkohol. Tape yang dihasilkan terlihat lembek dan terasa manis, dan siap untuk dinikmati, sehingga dapat dikatakan bahwa praktikum ini berhasil.

D. Kesimpulan
Peranan cendawan dalam industri menghasil bahan panganan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Cendawan Rhizopus spp. melakukan proses fermentasi dengan kacang kedelai menghasilkan tempe, sementara tape dihasilkan dari proses fermentasi cendawan Saccharomyces spp. dengan ketan. Untuk menhhasilkan bahan pangan tersebut diperlukan keterampilan dan keahlian dalam pembuatannya sehingga dihasilkan produk yang baik.

E. Daftar Pustaka
http://www.anekawarna.890m.com/cara%20membuat%20tempe.htm (13 Desember 2009)
http://id.wikipedia.org/wiki/Tape_singkong (13 Desember 2009)
http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=cendawan+pada+tempe+dan+tape (13 Desember 2009)

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Serologi adalah ilmu yang mempelajari prosedur-prosedur diagnostik dan eksperimental yang berhubungan dengan imunologi dan menyangkut reaksi-reaksi serum.Tes-tes serologi ini digunakan untuk; Identifikasi mikroorganisme-mikroorganisme, dan menunjukan antibodi didalam serum dari hospes pada penyakit-penyakit tertentu dimana penyebab penyakit tidak dapat diisolasi, penemuan spesifik antibodi adalah penting sekali untuk membantu diagnosa. Salah satu teknik serologi yang bersifat lebih sensitif dibandingkan dua metode serologi yang diuraikan terlebih dahulu. Enzyme linked immunisorbent assay, disingkat ELISA telah banyak mengalami peubahan sejak pertama kali teknik ini dipublikasikan ciri utama teknik ini adalah dipakai indikator enzim untuk reaksi imunilogi. ELISA telah berkembang sampai pada tingkatan yang sangat sulit untuk membuat generasi tentang kemampuan kinerja berbagai konfigrasi. Konfigurasi yang paling umum mengunakan substrat padat.
ELISA singkatan dari “enzim-linked Immunosorbent assay.” Ini adalah tes immunochemical cepat yang melibatkan sebuah enzim (protein yang mengkatalisis suatu reaksi biokimia). Juga melibatkan antibodi atau antigen (kekebalan molekul). Tes ELISA digunakan untuk mendeteksi zat yang memiliki sifat antigenik, terutama protein (sebagai lawan dari molekul kecil dan ion seperti glukosa dan kalium. Beberapa di antaranya adalah hormon, bakteri antigen dan antibodi.
B. Tujuan
Memperkenalkan teknik serologi dengan meode ELISA. Melakukan pengamatan reaksi warna pada sumuran hasil teknik serologi, untuk mendeteksi virus penyebab patogen pada tanaman kacang panjang dan tembakau.

BAHAN DAN METODE

A. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan antara lain; plat mikrotiter, pipet mikrotiter, antiserum, NAOH (3N), NAN3 (0.02%) ditambahkan pada setiap buffer bila perlu pengawetan, p-nitrophenyl phosphate, substrate untul alkalin fostatase, enzim konjugat, bahan-bahan pembuat bufer, ELISA reader
B. Metode
Adapun metode yang dilakukan dalam teknik ELISA ini antara lain, pertama-tama menyiapkan bufer ekstraksi (milk extrack buffer), yaitu dengan mencampurkan 1.25 g Tween-20 dan 1 g susu kering nonfat kadalam 250 ml PBST pH 7.4 (8.2 gNaCl, 2.9 g Na2HPO4, 12H2O, 0,2 g KH2PO4, 0,2 g KCl dalam 1000 ml H20 dan 5% Tween20). Setelah itu daun tanaman digerus dalam bufer ekstraksi tersebut (1/10 b/v), dan kemudian disaring dengan kain kasa.
Cairan perasan tanaman yang dihasilkan diambil sebanyak 100 ul kemudian dimasukkan kedalam sumuran plat mikrometer. Plat mikrometer ditutup dengan kertas basah/lembab dan disimpan dalam kotak plastik yang telah diberi alas kertas basah selama semalam pada suhu 4°C atau selama 2 jam pada suhu kamar. Selanjutnya plat mikrotiter dicuci 4-8 kali dengan PBST. Enzim konjugat yang sudah diencerkan dimasukkan ke dalam sumuran plat mikrotiter sebanyak 100 ul, kemudian diinkubasi pada suhu kamar selama 2 jam. Plat mikrotiter dicuci lagi sebanyak 4-8 kali dengan PBST. Sebanyak 100 ul bufer PNP (0,1 g Magnesium chlorida, 0,2 g Sodium azidae, 97 ml Diethanolamina) dimasukkan kedalam sumuran plat mikrotiter dan diinkubasi selama 30-60 menit.
Setelah waktu inkubasi tersebut akan terjadi perubahan warna pada cairan di dalam sumuran plat mikrotiter, yaitu warna kuning, yang menandakan reaksi positif. Reaksi segera dihentikan dengan penambahan sodium hidroksida (3M), selanjutnya dilakukan pencatatan hasil dan analisis kuantitatif dengan spektrofotometer 405 nm.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PEMBAHASAN
Perkembangan lain dari teknik ELISA yaitu ditemukannya teknik micro-ELISA asai. Prosedur micro-ELISA dapat mengatasi permasalahan keterbatasan sample yang sering ditemukan dalam analisa kuantitatif di laboratorium (Wiese et al., 2001) Perkembangan teknik ELISA sangat bermanfaat dalam ilmu kedokteran secara umum. Selain dapat mengidentifikasi penyakit-penyakit dan sistem imun, teknik ELISA juga dapat menganalisa penyakit karena gangguan fungsi hormonal tubuh. Teknik ELISA juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi virus penyebab pathogen tumbuhan
Kelemahan yang ada pada prosedur asai dengan menggunakan ELISA yaitu lamanya waktu inkubasi dapat dipecahkan dengan teknik ini. Teknik ini dalaporkanlebih sensitive, akurat, cepat, dan lebih ramah lingkungan. Time-resolved immunofluorometric assay sebenarnya hasil perkembangan dari teknik ELISA. Teknik ini menggunkan pewarnaan fluorescents yang telah sukses untuk menganalisis hormon insulin (Lovendahl and Purup, 2002). Perkembangan lain dari teknik ELISA yaitu ditemukannya teknik micro-ELISA asai. Prosedur micro-ELISA dapat mengatasi permasalahan keterbatasan sample yang sering ditemukan dalam analisa kuantitatif di laboratorium (Wiese et al., 2001). Teknik ini menggunakan microarray platform yang dikembangkan berdasarkan metode sandwich ELISA.

Enzim-linked immunosorbant assay, juga disebut ELISA, adalah sebuah biokimia teknik yang digunakan terutama di imunologi untuk mendeteksi keberadaan antibodi atau antigen dalam sampel.. Tes ELISA telah digunakan sebagai diagnostik alat dalam bidang kedokteran dan patologi tanaman, serta pengawasan mutu pemeriksaan di berbagai industri. Dalam istilah yang sederhana, dalam jumlah yang tidak diketahui ELISA antigen yang ditempel ke permukaan, dan kemudian dicuci antibodi spesifik di atas permukaan sehingga dapat mengikat antigen. Antibodi ini dihubungkan dengan enzim, dan di langkah terakhir ditambahkan suatu zat enzim yang dapat appropriate mengkonversi ke beberapa sinyal terdeteksi. Jadi dalam kasus fluoresensi ELISA, ketika cahaya dari panjang gelombang yang tepat adalah menyinari sampel, setiap antigen / antibodi kompleks akan fluoresce sehingga jumlah antigen dalam sampel dapat disimpulkan melalui besarnya fluoresensi.
ELISA merupakan metode uji serologi yang umum digunakan untuk menentukan pengujian terhadap patologi tanaman. Cairan perasan tanaman tembakau dan kacang panjang yang sakit terinfeksi virus merupakan bahan utama yang digunakan untuk mendeteksi virus. Metode ini menggunakan susu kering nonfat, Tween 20 dan PBST sebagai buffer ekstraksi. Sementara keperluan deteksi virus dianbil dari ekstak tanaman tembakau dan kacang panjang yang sakit yang dimasukkan kedalam sumuran plat mikrotiter yang telah diberi enzim konjugat. Setelah waktu inkubasi akan terjadi perubahan warna pada cairan di dalam sumuran plat mikrotiter, yaitu warna kuning yang menandakan reaksi positif
Hasil uji serologis pada tanaman tembakau dan kacang panjang yang sakit

Keterangan :
A1 dan A2 = buffer, berwarna bening menunjukkan reaksi negatif
B1 dan B2 = kontrol negatif (tembakau sehat), berwarna bening
C1 dan C2 = virus TMV murni, kontrol positif berwarana kuning (++++)
D1 dan D2 = G glubosa, berwarna bening menunjukkan reaksi negatif.
E1 dan E2 = tembakau sakit, berwrna kuning pudar (+) menunjukkan reaksi positif
F1 dan F2 = kacang panjang 1 (mozaik sakit) berwarna bening
G1 dan G2 = kacang panjang 2 (mozaik sakit) berwarna bening
H1 dan H2 = Cenopodium amaranti color (klorosis), berwarna kuning (+++)
ELISA sebagai salah satu metode uji serologis mempunyai satu kelebihan yaitu mampu mendeteksi beberapa jenis antibodi dari 1 sampel serum (tergantung dari kit ELISA yang digunakan). ELISA juga memiliki tingkat spesifikasi (yaitu kemampuan mendeteksi tanaman yang tidak terinfeksi atau tanaman yang tidak terinfeksi dinyatakan negatif) yang tinggi.
Peralatan yang digunakan dalam uji serologis melalui ELISA

Microreader plate mirotiter

Pipet multi channel Micro Aerosol Filter Pipet Tips

Pipet mikro tube mikro

Elisa plte reader Spectophotometer

KESIMPULAN

Teknik ELISA merupakan salah satu metode serologi yang lebih intensif. Teknik ini digunakan untuk berbagi keperluan, salah satunya adalah untuk mendeteksi virus yang menginfeksi tanaman tembakau dan kacang panjang dan mendeteksi berbagai macam antibodi yang terkandung dalam sampel serta mengetahui reaksi warna pada sample.

DAFTAR PUSTAKA

Bos, L. 1990. Pengantar Virologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=ELISA&btnG=Telusuri+d diakses tanggal 13 Desember 2009
http://www.clinchem.org/cgi/content/full/51/12/2415 diakses tanggal 13 Desenber 2009
http://info.medion.co.id diakses tanggal 13 Desember 2009

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI PATOGEN TUMBUHAN

INKLUSI BADAN KRISTAL DALAM Nicotiana tobacum TERINFEKSI VIRUS MOZAIK TEMBAKAU (TMV)

Nama : Leli Tian Rahmawati
NRP : A34080053

Dosen :
Endang Nurhayati, Ph.D

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI PATOGEN TUMBUHAN

TEKNIK SEROLOGI DENGAN ENZIM LINKED
IMMUNOSORBANT ASSAY (ELISA)

Nama : Leli Tian Rahmawati
NRP : A34080053

Dosen :
Endang Nurhayati, Ph.D

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

I. TUJUAN
Mempelajari faktor-faktor lingkungan: (1) jumlah daun, (2) sirkulasi udara, (3) cahaya, (4) jumlah stomata terhadap laju transpirasi

II. PENDAHULUAN
Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui penguapan. Proses kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi. Pada transpirasi, hal yang penting adalah difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun. Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Besarnya uap air yang ditranspirasikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Faktor dari dalam tumbuhan (jumlah daun, luas daun, dan jumlah stomata); (2) Faktor luar (suhu, cahaya, kelembaban, dan angin).
pada tanaman darat umumnya stomata terdapat pada permukaan daun bagian bawah, sementara pada tanaman air stomata terdapat pada permukaan atas daun. Semakin banyak jumlah stomata maka proses transpirasi dapat berlangsung lebih cepat. Lubang stomata yang tidak bundar melainkan oval memiliki hubungan dengan intensitas pengeluaran air. Juga yang jarak antar stomata satu dengan yang lain dapat mempengaruhi intensitas penguapan. Jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan maka penguapan dari lubang stomata yang satu akan menghambat penguapan dari lubang stomata yang berdekatan.Temperatur berpengaruh pada membuka dan menutupnya stomata. Pada banyak tanaman stomata tidak berserdia membuka jika temperatur ada disekitar 0 ◦C
Menurut pendapat Dwijoseputro, 1986 faktor lingkungan yang mempengaruhi transpirasi adalah: 1)Kelembaban; Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang, dengan demikian seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya kelembaban udara. Apabila stomata dalam keadaan terbuka maka kecepatan difusi dari uap air keluar tergantung pada besarnya perbedaan tekanan uap air yang ada di dalam rongga-rongga antar sel dengan tekanan uap air di atmosfer. Jika tekanan uap air di udara rendah, maka kecepatan difusi dari uap air di daun keluar akan bertambah besar begitu pula sebaliknya. Pada kelembaban udara relatif 50% perbedaan tekanan uap air didaun dan atmosfer dua kali lebih besar dari kelembaban relatif 70%. 2) Suhu; Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi dari pada suhu udara 3). 3.) Cahaya; Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara yaitu: a. Sehelai daun yang terkena sinar matahari langsung akan mengabsorbsi energi radiasi b. Cahaya tidak usah selalu berbentuk cahaya langsung dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata, dengan mekanisme tertentu. 4). Angin; Angin cenderung untuik meningkatkan laju transpirasi, baik didalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan laju transpirasi, cenderung menjadi lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air. 5). Kandungan air tanah; Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.
Salah satu cara untuk mengevaluasi seberapa efisien sebatang tumbuhan menggunakan air adalah dengan menentukan rasio transpirasi terhadap fotosintesisnya, yaitu jumlah air yang hilang per gram CO₂ yang diasimilasikan menjadi bahan organik melalui fotosintesis. Tumbuhan yang efisien akan menguapakan air dalam jumlah yang lebih sedikit untuk membentuk struktur tubuhnya (bahan keringnya) dibandingkan dengan tumbuhan yang kurang efisien dalam memanfaatkan air. (Campbell et all 2003)

III. HASIL PENGAMATAN
Tabel hasil pangamatan
Perlakuan Air yang diperlukan ml/s 5’

1 2 Rata-rata
Laboratorium 3,3 x 10 ̄ 3,6 x 10 ̄ 3,5 x 10 ̄
Kipas angin 3,6 x 10 ̄ 3,3 x 10 ̄ 3,5 x 10 ̄
Cahaya lampu 3,3 x 10 ̄ 3,3 x 10 ̄ 3,3 x 10 ̄
Kipas angin + cahaya lampu 3,6 x 10 ̄ 5,3 x 10 ̄ 4,5 x 10 ̄
½ jumlah daun 3,3 x 10 ̄ 3,6 x 10 ̄ 3,5 x 10 ̄

IV. PEMBAHASAN

Berdasarkan data hasil pengamatan, laju transpirasi pada tanaman terbesar terdapat pada perlakuan yang diberi aliran udara melalui kipas angin + cahaya lampu yaitu sebesar 4,5 x 10 ̄ ml/s hal ini dikarenakan angin membawa udara dekat ke daun dan membuat lapisan pembatas pada daun lebih tipis sehingga mengakibatkan laju transpirasi pada tumbuhan lebih tinggi pada udara yang banyak hembusan angin. Adanya cahaya langsung yang mengenai permukaan daun, mengakibatkan udara menjadi hangat. Udara hangat membawa lebih banyak air yang keluar dari pada udara dingin. Oleh karena itu, pada saat panas, volume udara akan memberikan sedikit uap air dengan kelembaban relatif yang rendah. Untuk alasan ini, tumbuhan cenderung kehilangan air lebih cepat pada udara hangat dari pada udara dingin. Tingkat cahaya yang tinggi mengakibatkan kemampuan stomata membuka lebih besar air yang keluar lebih banyak, akibatnya laju transpirasi bertambah cepat.
Pada percobaan kedua yang diberi perlakuan cahaya lampu dan pada percobaan ketiga yang diberi perlakuan kipas angin seharusnya memiliki laju transpirasi yang lebih tinggi, daripada keadaan normal saat di laboratorium. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, hal ini dikarenakan adanya faktor lingkungan yang tidak konstan mempengaruhi laju transpirasi yaitu berupa Intensitas penyinaran yang semakin kecil, sehingga dapat menurunkan laju transpirasi, serta pergerakan angin yang semakin melemah juga dapat memperlambat laju transpirasi. Kondisi ini mengakibatkan adanya ketidaksesuaian antara hasil percobaan dengan literatur.
Pada perlakuan yang terakhir, ketika jumlah daun dikurangi menjadi setengah dari jumlah semula, maka jumlah stomata yang terdapat pada tanaman menjadi berkurang. Proses transpirasi sangat tergantung pada proses membuka dan menutupnya stomata, akibatnya semakin sedikit jumlah stomata, maka proses transpirasi menjadi berkurang sehingga, laju transpirasi yang terjadi pada tanaman akan semakin lambat.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa laju transpirasi dipengaruhi oleh fakto lingkungan berupa; jumlah daun yang berdampak pada jumlah stomata, semakin banyak jumlah daun maka jumlah stomata akan semakin banyak kondisi ini dapat mempercepat laju transpirasi. Sirkulasi udara dapat mempercepat laju transpirasi karena dapat menyapu permukaan daun sehingga lapisan pembatas pada permukaan daun menjadi lebih tipis. Adanya intensitas cahaya yang tinggi mengakibatkan stomata membuka lebih besar sehingga laju transpirasi menjadi lebih cepat.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. 2003. Biologi. Edisisi Kelima, Jilid 2. Manalu W, penerjemah. Safitri A, editor. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : Biology, Fifth Edition.

Salisburry Frank B,Ceon W Ross.1992. Fisiologi Tumbuhan, Jilid . Lukman R Diah, sumaryono, penerjemah. Bandung: ITB

http://nununghaerani.blogspot.com/2009/06/laporan-fisiologi-tumbuhan.html (diakses Minggu 4 April 2010)
Deragon. 2005, WATER POTENTIAL, http://www.deragon.com. ( diakses Minggu 4 April 2010)

VII. JAWABAN PERTANYAAN
1. Apabila pada percobaan dilakukan dengan menggunkan batang berakar, akan memperlambat proses transpirasi, hal ini dikarenakan air akan bersinggungan dengan akar dan melalui mekanisme transportasi yang lebih kompleks yaitu dari epidermis ke endodermis akar, dan melalui tiga lintasan. Diantaranya lintasan apoplas, lintasan transmembran, dan lintasan simplas. Setelah melewati jalur ini baru air akan menuju xylem dan ke seluruh jaringan tumbuhan khususnya daun, akibat pergerakan air yang kompleks ini aliran air menuju permukaan daun lebih lama dibandingkan dengan tanaman yang tidak berakar, sehingga laju transpirasi akan lebih lama.
2. Air bergerak melalui potometer naik ke dalam cabang tumbuhan disebabkan karena adanya daya penggerak, adesi dan kohesi air. Daya penggerak adalah gradien potensial air yang semakin negatif dari tanah, melalui tumbuhan,ke atmosfer. Air bergerak dalam lintasan mulai dari tanah, melalui epidermis, korteks, dan endodermis, masuk ke jaringan pembuluh akar , naik melalui unsur xilem, masuk ke daun, dan akhirnya ke stomata untuk kemudian ditranspirasikan ke atmosfer. Stuktur khusus lintasan ini seperti tabung pembuluh yang memiliki potensial osmotik rendah pada sel batang dan daun, serta kemampuan adesi antar dinding sel dengan air yang memilki daya kohesi untuk menarik molekul air keatas. Daya adesi ini diakibatkan adanya ikatan hidrogen.
3. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap laju transpirasi antara lain; 1) jumlah daun; semakin berkurang jumlah daun maka laju transpirasi akan semakin lambat karena tanaman mengalami pengurangan jumlah stomata sebagai tempat terjadinya transpirasi. 2) Angin; Angin cenderung untuk meningkatkan laju transpirasi, baik didalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Angin membawa udara dekat ke daun dan membuat lapisan pembatas pada daun lebih tipis sehingga mengakibatkan laju transpirasi pada tumbuhan lebih tinggi pada udara yang banyak hembusan angin. 3) Cahaya; Adanya cahaya langsung yang mengenai permukaan daun, mengakibatkan udara menjadi hangat. Udara hangat membawa lebih banyak air yang keluar dari pada udara dingin. Tingkat cahaya yang tinggi mengakibatkan kemampuan stomata membuka lebih besar air yang keluar lebih banyak, akibatnya laju transpirasi bertambah cepat. 4) jumlah stomata; Semakin banyak jumlah stomata maka proses transpirasi dapat berlangsung lebih cepat